Percayalah. Ara cukup jemu dengan asumsi - asumsi orang sekitar dan juga asumsinya sendiri. Sehingga dia memutuskan untuk menutup telinga. Di satu sisi dia ingin mendendangkan kisahnya dengan Agam, tapi dia juga berpikir "buat apa? untuk apa?" di waktu yang sama.
Ara bukan wanita lemah. Dia kuat. Dia terbiasa berjalan sendiri. Mengatasi urusannya sendiri. Dia tidak terbiasa mengumbar ceritanya ke sembarang orang. Dia akan lebih memilih menyimpan masalahnya rapat - rapat. Tanpa celah. Ara terbiasa berdiam diri. Bercengkrama dengannya sendiri. Membiarkan dirinya menangis sendiri. Meskipun dengan begitu dia berperang dengan batinnya sendiri, tapi itu jauh lebih baik baginya. Itu menenangkan dirinya pada akhirnya. Walaupun dia perlu diam beberapa hari. Tapi tidak untuk kisah ini. Ara tidak mampu menuntaskan nya sendiri. Dia menceritakan ke orang sekitar. Yang dari cerita dia sendirilah akhirnya orang sekitar berasumsi neko - neko.
Tuhan memang Maha Asyik. Memang hanya Beliau lah yang mampu membolak - balikkan hati dan cerita. Disaat Ara berniat untuk tidak lagi membahas tentang Agam --- Ara ingin memantapkan hatinya bahwa tidak ada yang janggal antara dia Agam --- Tuhan menghadirkan seseorang yang padanya Ara sama sekali tidak pernah menceritakan apapun. Ara hanya mengenal wanita itu kurang lebih tiga bulan. Dengan penuh kepercayaan diri tanpa basa - basi, wanita tersebut bertanya pada Ara,
"Dari siapa kamu dapat boneka besar itu?".
"Dari temen.", jawab Ara.
Dengan watados (wajah tanpa dosa) wanita tersebut bertanya lagi,"Temen? Yakin cuma temen?"
Dan dengan penuh keyakinan Ara membalas,"Iya."
"Temenan kok begitu akhirnya?" sahut wanita itu.
Pertanyaan "temenan kok begitu akhirnya" amat sangat mengusik Ara. Apa maksudnya? Wanita tersebut tidak tahu menahu tentang hidup Ara. Dia tidak tahu ada cerita apa antara Ara dan Agam. Tapi dengan mudah nya, tiba- tiba, dia mengobrak - abrik hati dan pikiran Ara.
Ara yang sebelumnya sudah bertekad meyakinkan hati dan pikirannya bahwa tidak ada satu pun hal yang perlu dipertanyakan tentang dia dan Agam ambruk seketika. Ara masihlah perempuan yang lemah akan telinganya. Ara tidak pikir panjang. Dia langsung menyerbu wanita itu dengan berbagai pertanyaan.
"Temenan kok begitu akhirnya? Maksudmu? Ngarang kamu. Nggak usah sok tahu begitu." tanya Ara.
Wanita tersebut langsung menangkis,"Aku sok tahu atau kamu tak tahu? Teman laki - laki macam apa yang melakukan hal seperti ini?"
"Apa yang kamu maksud dengan temenan kok akhirnya begitu? Memang bagaimana akhir kami? Emang kamu tahu dia?"
"Kalian kenal udah lama kan? Jangan dilepas. Dia orang baik. Dia orang yang bisa mengertimu tanpa kau beritahu. Lelaki yang kapabel memahamimu adalah dia, yang kau sebut teman."
Heiii kamu. Seenak dengkulmu ya kalau ngomong. Heeiii. Buyar ini buyar. Aiiishhh.......
#bersambung
😂😂😂
ReplyDeleteGasss🤭
ReplyDelete🌻🌻🌻🌻😍😍
ReplyDelete🔥🔥❤️❤️
ReplyDeleteHaloo temaann🤭😁
ReplyDeleteLanjut sek...
ReplyDelete🤣🤣🤣🤣kasian ara dipojokan
ReplyDelete